Selasa, 14 Februari 2012

Ukhti

Ukhti........
5 huruf yang terbentuk dan tergabung menjadi suatu kata yang indah untuk di ucapakan bukan merupakan rangkaian kata - kata yang biasa...

Ketika kau menyebut "ukhti" kepada saudarimu, ada desir yang mengalir di dalam hati... ada cinta yang di tiupkan ke dalam hati kita oleh sang pemberi cinta....

Ukhti.. Saudariku di Jalan Allah...
Begitulah Allah mengajarkan kita ucapan yang baik kepada saudara kita,
panggilan disertai doa yang membentuk bingkai ukhuwah kehidupan
Doaku untuk kalian ukhti saudariku dijalan Allah
Semoga kita tetap istiqomah....

Senin, 13 Februari 2012

DIAM

DALAM DIAM MENANTI FAJAR
DAN KILASAN CAHAYA TETANG ASA
BERDERAK
TERINGAT APA YANG BARU SAJA KU ALAMI

MERASAKAN RASA YANG TAK KU RASAKAN DARI BIASA
SAAT PIPI MULAI BASAH KARENA AIR MATA
SAAT KEMBALI TERINGAT WAKTU BERSAMANYA
TERNYATA KU RASA HAL YANG BERBEDA

ADA GEMURUH YANG BERGEMA DI HATI
ADA RASA YANG MEWARNAI HATI
BIARKAN INI MENJADI SEBUAH MIMPI

DAN KITA AKAN TERBANGUN MENINGGALKANNYA
MENYAMBUT HARI YANG NYATA


for : hati....

Senin, 30 Januari 2012

Tawakal


Gue udah sholat jumpalitan pas malem 12 rakaat, dhuha 12 rakaat, tapi kok urusan gue yang satu itu susah banget kelar... tapi si similikiti kagak pernah sholat, ngaji juga ga bisa, tapi kok lancaaaar banget kalo punya gawe...

Sepertinya tidak satu-dua orang yang pernah berfikir seperti itu. Membandingkan kuantitas ibadahnya dengan orang lain lalu dihubungkan dengan nikmat fisik kasat mata yang diterima masing2... Pun! Pun membandingkan kualitas dirinya dengan orang lain lalu dihubungkan dengan elektabilitas masing2 di hadapan manusia.

Rasanya banyak wanita sholihah kualitas super yang sampai usia 40 tahun, tapi masih saja harus memohon kepada Rabbnya untuk mendatangkan lelaki yang akan menggenapkan setengah diennya.

Rasanya banyak pasangan harmonis nan romantis yang sampai usia pernikahannya yang ke-7, masih saja memohon kepada Sang Irrodah untuk menghadirkan buah hati penyejuk jiwa dalam bilik2 rumahnya.

Rasanya banyak mahasiswa pluripoten, famous seantero kampus *bedeeuhhh lebay*, tapi ternyata ada hajat penting dalam hidupnya yang belum tunai.

Kurang apaa cobaaa?
Usaha? Oke.
Ibadah? Terrrus.
Doa? Jalan.
Semoga mereka kenal dengan kata tawakal ^_^

Tawakal itu didahului dengan memiliki prinsip -> lalu memegang prinsip itu dengan teguh -> tawakal.
Jadi bahasa gampangnya : usaha + doa -> konsisten berusaha dan berdoa -> tawakal .
“Robbanaa ‘alaika tawakkalnaa. Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal.” (Mumtahanah: 4)

Setelah itu milik Allah... ketetapan Allah... Saya beberapa waktu lalu sempat belajar tentang *adha dan *adar. Rumit. Tapi pengen juga next time posting tentang hal itu ^_^

Balik lagi... Kapan datengnya siiiiihhh hajat kita itu? Kapan terkabulnyaa?
“Wahai orang2 yang beriman, mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang2 yang sabar.” (Al-Ba*arah : 153)

Kalian tau? Ketika ada pengamen yang nyanyi di hadapan kita, dengan wajah tampan, suara yang merdu, dan lagu yang kita sukai, apa respon kita? Bukankah kita ingin berlama2 mendengarkan dan tidak mau cepat2 ngasih koin ke pengamen itu? Bukankah kita ingin mendengarkan lagunya sampai habis dan kalau bisa nyanyi lagi dengan lagu re*uest-an kita? Dan setelah kita puas... maka keluarlah lembaran uang tanda kita menghargainya...

Beda ketika yang datang adalah pengamen dengan penampilan begundal dan ketika nyanyi, kita lebih memilih untuk menutup telinga... lalu apa respon kita? Bukankah kita akan secepatnya merogoh kantong, lalu menyerahkan dengan segera kepingan koin kepada pengamen itu? Sadari... Koin itu adalah tanda pengusiran, kawan. Agar pengamen itu secepatnya enyahh... Bukan balas jasa, apalagi penghargaan.

Itulah. Kita belajar dari filosofi pengamen.. Ketika hajat kita masih belum terpenuhi, jangan bersedih. Barangkali Allah sedang senang melihat usaha kita, sedang senang mendengar doa khusyu’ kita... Tenanglah... Allah Mahaadil. Allah Mahabaik. Allah sangat menyayangi hambaNya... Allah akan membalas amal kita, walau sekecil dzarah. Jangan khawatir atas skenario Allah. Pastilah yang terbaik. Mungkin saja tidak sesuai dengan hajat kita, tapi bisa saja lebih, sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh kita sebelumnya. Allah lebih tau dari kita. Tentang waktunya. Tentang wujudnya.
“Dan kepada setiap jiwa diberi balasan dengan sempurna sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Az-Zumar : 70)
Percaya, kan? Sungguh... Allah lebih tau dari kita..
Tentang waktunya.
Tentang wujudnya.

Jumat, 27 Januari 2012

Hampir Jantungan

KRIIING!!

Me : Halo… #sambil ngaduk adonan brownies#

Penelepon 1 : Ya halo… benar ini rumah Bapak Adi Herdiana?

Me : Ya, benar.

Penelepon 1 : Bisa bicara dengan istrinya? #dengan nada butuh jawaban segera#

Me : #rasa ga enak, mikir yang ga2# istrinya sedang kerja juga.

Penelepon 1 : maaf, ini dengan siapa?

Me : Diniyah pak, anaknya. Ada apa, Pak? #panik tingkat 1#

Penelepon1 : Saya mau mengabarkan, mbak. Pak Adi jatuh di kamar mandi. Kepalanya terbentur, mengalami pendarahan. Kondisinya sekarang tidak sadarkan diri.

Me : Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Sekarang dimana, Pak? #panik tingkat 9#

Penelepon 1 : Di ambulance.

Me : Ke rumah sakit apa, Pak?

Penelepon 1 : Saya ga tau. Coba tanya Pak Heru. Tadi beliau yang ikut ambulancenya.

Me : #kok ga tau? Ah, mungkin ambulance sewaan# Yasudah! Nomer HP Pak Heru berapa? Maaf, ini dengan bapak siapa?

Penelepon 1 : Pak Bambang, mbak. Temannya Bapak juga. Ini nomer Pak Heru. Catat, sudah pulpennya?

Me : Sudah, Pak #gusrak2.. pulpen dan kertas belepotan adonan brownies#

Pak Bambang : 0812*******.

Me : Saya ulang, Pak. 0812******

Pak Bambang : Segera ditelpon, ya.

Me : Ya, terima kasih, Pak Bambang.

Pak Bambang : Oya, tolong HPnya Bpak ditelpon. Tadi terjatuh di kamar mandi, dibawa sama temannya juga kayanya. Tapi coba ditelpon aja, kondisi seperti itu bisa aja kan..

Me : Iya.. iya, Pak.

Pak Bambang : Nomer HP ibunya berapa, Mbak?

Me : 0815*******

Pak Bambang : Ya, segera di telpon, ya. Kritis itu, Mbak, bapaknya.

Me : Ya, Pak… #panik tingkat 99#

--------------------------------------------------------------------------------

Me : #telpon Pak Heru. Tapi nadanya sibuk. Redial. Sibuk. Redial. Sibuk# Mungkin lagi nelpon mamah.

Tami(adik sepupu ) : Udah telpon uwa kiki (mamah) teh?

----------------------------------------------------------------------------------------

Me : #nelpon mamah#

Mamah : Halo…

Me : Ma, Pak Heru udah nelpon?

Mamah : Belum. Siapa?

Me : Temennya Bapak. Tadi ada yang nelpon #lantas saya ceritakan# Mamah telpon Pak Heru, ya.. #nomernya saya sebutin#

Mamah : Ya, Mamah telpon.

Me : Kasih tau ya, Mah, nanti…

-----------------------------------------------------------------------------------------

Me : #nelpon HP Bapak. Sibuk. Redial. Nomor tidak terinstall!#

Tami : #ngaduk adonan brownies sambil netes2 air matanya#

Mba : #beli air gallon. Tadi pagi sebelum berangkat, Bapak nyuruh Mba beli air gallon#

Me : Ya Allah…

------------------------------------------------------------------------------------

Me : #nelpon Kaka#

Kakak : Halo, assalamu’alaykum, ada apa?

Me : wa’alaykumussalam. Kak, Bapak.. #saya bercerita lagi# tapi gw belum tau Bapak di rumah sakit mana, tadi masih sibuk HPnya Pak Heru.

Kanda : Gw pulang sekarang?

Me : iya kak, cepetan pulang dirumah Cuma ada gw, mba ma tami

Kakak : Yaudah,nta langsung kabarin, yak lo ada apa2

Me : Ya. Aku telpon Pak Herunya lagi dulu.
-----------------------------------------------------------------------------------------

Baru tutup telpon, KRIIIING!

Me : Ya, halo!! #aduh, telponnya kresek2 lagi!!#

Penelepon 2 : Kami dari UGD rumah sakit –ga jelas-, di sini ada pasien bernama Adi Herdianan. Benar ini rumahnya?

Me : Benar. Maaf, rumah sakit apa? #dengan nada suara tinggi#

Penelepon 2 : -ga jelas- #kresek2 mulu telponnya. Aaaah… di saat kaya gini! Plissss!#

Me : Apa, Pak? Maaf, telponnya kresek2 #dengan nada suara tinggi kuadrat#

Penelepon 2 : MMC Kuningan.

Me : Oh iya iya… bagaimana kondisi Bapak saya?

Staff MMC : Ada tindakan yang harus segera dilakukan. Bisa bicara dengan istrinya? Kami perlu segera bicara.

Me : Sedang di kantor, Pak.

Staff MMC : Baik, tolong diberi tau, ya… Telfon Dokter Emmanuel. Beliau dokter yang menangani Pak Adi.

Me : Ya, Pak. Berapa nomornya?

Staff MMC : 021 3******. Segera, ya. Kondisi pasien kritis.

Me : Ya, Pak. Terima kasih #dengkul lemes, otak stress#
-----------------------------------------------------------------------------------------

Me : #nelpon Mamah. Sibuk. Redial. Sibuk. Redial. Sibuk# Aaaahh.. Mamah ga bisa ditelpon… Tami, hp lo manaaaa? #ga bisa ngontrol suara#

Tami : #ngasih HPnya. Nangis, tapi tetep sambil membagi adonan browniesnya menjadi 3 bagian#

Me : Mi udah adonannya ntar ja, ambilin HP gue dong di atas. Charger-in juga #sambil ngetik sms nomornya dr. Emmanuel untuk Mamah dan nada suara makin tinggi#
-----------------------------------------------------------------------------------------

Hampir setengah jam kita gak berbuat apa2. Berdoa..berdoa..berdoa untuk bapak... Mba diam, Tami nangis, saya bingung+nangis. Apa yang harus saya lakukan??

Me : #nelfon Mamah lagi. Nada sibuk. Redial. Sibuk.#

Kondisi Bapak gawat. Saya gatau Mamah sudah telfon dr. Emmanuelnya atau belum. Padahal harus segera. Saya sudah berfikir kemana2… Secepat inikah Bapak? Bapak pasti kuat! Allah akan menyembuhkan Bapak… Allah akan melindungi Bapak… Ya Allah… tolonglah… Ingin sholat, tapi sudah/baru jam 11…

Alhamdulillah kakak pulang, langsung lari ke dapur.....

Spontan pas ngeliat kakak langsung meluk trus nangis.....

-----------------------------------------------------------------------------------------

Pak Heru : Butuh 24,5 juta sebagai uang muka, Bu..

Mamah : Ya Allah… tolong ditalangi dulu, Pak.

Pak Heru : Saya hanya ada 1 juta, Bu. Tidak cukup sebagai uang muka.

Mamah : Tolong jadi jaminannya dulu, Pak. Nanti akan diganti.

Pak Heru : Kondisinya sangat mendesak, Bu. Saya ga bisa memutuskan apa2. Coba ditelpon saja dokternya.

Mamah : Ya..

Pak Heru : Atau Ibu telpon ke Staff TU deh. Biasanya bisa nyediain dana. Saya ada nomernya.

Mamah : Ya, boleh.

Pak Heru : Nomernya *** *****

Mamah :Ya,terimakasih.
-----------------------------------------------------------------------------------------

Staff TU : Halo….

Mamah : Halo…. #menceritakan kejadian dan keperluan#

Staff TU : Biasanya memang bisa, Bu.. tapi sekarang sedang tidak bisa. Karena sudah tutup buku.

Mamah : Tidak bisa diusahakan?

Staff TU : Coba saya tanyakan dulu, Bu. Nanti saya hubungi lagi. Nomor HP Ibu?

Mamah : 0815*******

-----------------------------------------------------------------------------------------

Tante Sri : Ya, Mbak?

Mamah : Bapak.... #menceritakan kondisinya# saya masih di kantor, dari tadi belum bisa berangkat.

Tante Sri : Ya, kami duluan ke MMC.

Tante Sri langsung naik taxy, membawa uang yang dibutuhkan. Keadaan sangat membuat panik mereka. Mengingat om kami sudah lebih dulu berpulang ke rahmatullah akibat pendarahan otak 2 atau 3 tahun lalu.
-----------------------------------------------------------------------------------------

Mamah : Tolong lakukan yang terbaik, Dok.

Dr. Emman : Iya. Tapi sangat dibutuhkan alat itu, Bu.

Mamah : Ya, kami akan mengganti. Sekarang sedang diusahakan uangnya. Tolong sekarang lakukan yang terbaik, Dok.

Dr. Emman : Ya, Bu. Tapi kondisi Bapak sangat butuh adanya alat itu.

Mamah : Keluarga sedang mengusahakannya dan menuju RS. Saya masih di kantor belum bisa kemana2.

Dr. Emman : Ibu ngeyel ya. Kondisi Bapak terus menurun. Telfon ini sudah direkam. Kalau terjadi apa2, Ibu tidak bisa menuntut rumah sakit.

Mamah : Saya pasrah, Dok. Saya sudah melakukan yang bisa saya lakukan.

KLIK!
-----------------------------------------------------------------------------------------

Tami nutup wajahnya dengan bantal, nangis. Mba juga nangis. kakak sibuk sama ketiga hpnya menghubungi tante dan om.… Saya nangis sambil Ngukus browniesnya saja. Sambil berdoa… Terus.. terus… Selamatkan Bapak, Ya Allah…

KRIIINGG!!

Me : Aaaaahhh… takuuttt!! Gue ga mau angkat telpon! #takut sekali#

Tami : Angkat, Teh!!!

Me : …. #angkat telpon#

Mamah : Halo…

Me : Gimana Bapak, Mah?? Udah ke rumah sakit?
Mamah : Penipuan, neng.. Bapak gapapa. Sekarang lagi raker di Puncak (Bogor).

Me : Yang bener???

Mamah : Iya #dengan suara masih lemes#

Me : Lah? Kok bisa gini? HPnya Bapak hilang? Aku telpon ga bisa2.

Mamah : Ga kok. Coba aja telpon lagi.

Me : Beneran nih, Ma?

Mamah : Iya, bener…

Me : Alhamdulillah… Trus ditipu apa?

Mamah : Ga kena. Tadi disuruh bayar uang muka 24 juta.

Me :Alhamdulillah…Yasudah..
-----------------------------------------------------------------------------------------

Alhamdulillah, wa syukurillah… walau dengkul masih lemes, tapi semangat sudah kembali menyala. Walau kepala masih berdenyut2, tapi hati sudah kembali mengenali apa itu bahagia.

Tami : Jadi penipuan?? #mata netes air mata, tapi muka sumringah banget#

Kakak : Aaaaaah… ini semua gara2 lu… Bikin panik semua orang!

Me : Diih, kenapa guwwweeee??? Emang gue yang nipuuuuu?

kakak : Bapak kan lagi raker di Bogor -baru paginya berangkat-

tami : Iya, katanya uwa jatoh di kamar mandi sekolah. Padahal lagi raker ma guru2 di puncak

Me : Gue tau Bapak raker, tapi gue ga tau Bapak di Bogor.. Lagian tadi Pak Bambang Surambang itu ga bilang kalo jatohnya di sekolah siiih. Gue pikir kan di tempat rakernya.

kakak : Lagian dibawanya ke RS MMC Kuningan. Bapak sekolahny dkt sini .. Jauh amat… Keburu gimana2 deh. Lu sih aneh…

Me : Ettt… Gue kagak tau kalo Bapak rapat di Bogor. Gue pikir rakernya di Kuningan, makanya dibawa ke situ. Udah ah, gue mau telpon Bapak dulu…

Kakak : makannya klo apa2 tuh dipikr dulu, kasian orang2 dah pada panic

Me : lho kok ini jadi gw tersangkanya sih...


-----------------------------------------------------------------------------------------

Me : #nelpon Bapak#

Bapak : Halo…

Me : #alhamdulillah, nyambung…# Halo… Bapak gapapa?

Bapak : Iya, gapapa. Bapak lagi rapat di Bogor.

Me : Beneraaaaannn???

Bapak : Iya..

Me : HPnya Bapak ilang??? #ga mikir apa ini lu telpon ke HP sapaaaahh?#

Bapak : Ga…

Me : Kok bisa gini? Tadi HP Bapak aq telpon kok ga bisa terus?

Bapak : Sepanjang rapat, HPnya Bapak ada yang telpon terus. Tapi kalo diangkat ga ada yang sahut. Bapak ga bisa lihat sms yang masuk. Bapak juga ga bisa calling ke luar, karena ditelpon terus2an.

Me : Yasudah, alhamdulillah…

Bapak : Udah, ya.. Bapak rapat lagi.

Me : Iya… Bapak hati2 ya kalo ke kamar mandi. Ga boleh jatoh.

Bapak : Iyaaa...

Me : Yaudah, tami sama mba udah nangis2 noh…

Bapak : Hehe.. Bapak ga kenapa2. Udah, ya… Assalamu’alaykum.

Me :wa’alaykumussalam.
-----------------------------------------------------------------------------------------

Bagaimana bisa ketahuan?

Temen Mamah1: Coba telpon sekolahan dulu, Bu

Temen Mamah2: Ya, Bu. Saya juga akan telpon suami saya. Suami saya biasanya tau kalau ada kejadian apa2 #karena suami beliau satpam di sekolah Bapak#

Temen Mamah1: Atau telpon Pak Nababan. Sepertinya beliau juga ikut raker yang diikuti Pak adi. Saya ada nomornya. Saya telpon beliau dulu.

Tante Inang : Saya minta nomer HPnya kak adi, ki..

Mamah : #menyebutkan nomor HP Bapak#

Tante Inang : #mengirim sms ke Bapak#

Temen Mamah1: Kata Pak Nababan, ada Pak adinya di sana, Bu. Sedang rapat.

Mamah :Yang benar??


-----------------------------------------------------------------------------------------

Lalu HP Mamah berdering, ada nomor asing masuk, ternyata itu Bapak memakai nomor temannya… Memberi taukan bahwa dirinya baik2 saja. Fiuh! Alhamdulillah…

Hati2… Mereka sangat licik. Ketika itu, mereka berhasil menciptakan suasana yang pas. Suara seperti benar2 bapak kantoran, seperti pegawai rumah sakit sungguhan, dengan gaya bicara yang emergency, titik koma dan penekanannya sangat pas. Sampai ada backsound ambulance juga, sehingga semakin meyakinkan kami. Ada staff TU kantor dan dokter gadungan yang dilibatkan… HP Bapak ga bisa ditelpon pula. Sangat professional. Alhamdulillah, semata2 Allahlah yang melindungi kami… Sehingga kami terhindar dari akal licik mereka.

Tante Inang : Minta HP yang telpon2 tadi, ki..

Mamah : #menyebutkan 2 nomor yang daritadi membuatnya panik#

Tante Inang : Hey… coba kalau anak istrimu yang dikerjai kaya gini. Gimana??? Mau dapat uang aja harus menipu!!


-----------------------------------------------------------------------------------------

Mamah alhamdulillah masih fokus, sehingga masih ingat dengan tante Sri. Sehingga tante Sri yang sudah di taxy perjalanan ke MMC, kembali lagi ke rumah.

sungguh kita lemah, tidak ada daya dan upaya tanpaNya…

Jumat yang medebarkan.......